Feeds:
Posts
Comments

Langit dan Senja

Aku berada di birunya langit

Tanpa awan

Sepi

Hanya biru

 

Sedang kau?

Ada di ufuk senja

Merona jingga penuh kehangatan

 

Adakah waktu akan mempertemukan kita?

 

Kau tenggelam disambut malam

Aku tiada lagi rasakan hangatmu

 

Bisakah aku tanpa hangatmu, wahai jingga?

Haruskah aku melepasmu, duhai senja?

 

“Aku merindukanmu seperti kemarau pada hujan”

 

(Bekasi, 11 Maret 2016)

Resti Mirza Apriani

@shofwamirza

“meninggalkan”

Ada kalanya “meninggalkan” adalah satu-satunya jalan yang bisa diambil.

Ketika, penyakit hati ini malah bertambah.
Ketika, kepercayaan ini sudah tidak lagi ada.
Ketika, ini sudah bukan lagi menjadi perantara yang baik.

Aku memilih untuk tidak memperbaiki. Aku memilih untuk tidak bertahan. Aku memilih untuk tidak lagi bergantung pada orang lain. I will stand on my own.

Rindu

Melihat anak kecil mengemis di jembatan, mengingatkanku padamu. Kala itu, hatiku diliputi rasa penasaran dan juga sedih. Lantas, aku pun bertanya padamu pada malam itu: bagaimana bisa orang berlalu lalang begitu saja melewati anak kecil menengadah mengharap secuil kasih. Tak terpikirkah mereka bertanya pada anak itu, siapa namamu? Dimana orang tuamu? Mengapa kamu di sini?

Itulah kegelisahan hatiku yang langsung kucurahkan kepadamu. Aku tak ingat kau menjawabku apa. Aku hanya ingat, aku telah memilih untuk bertanya pada orang yang tepat. Yang membuatku nyaman.

Ingatanku pun melayang pada hal lain. Aku teringat ketika aku hendak menyebrang sebuah jalan di suatu kota. Sangat sulit sekali menyebrangi jalan itu. Seperti menyebrang di jalan tol. Tapi aku bahkan masih bisa bermain dengan keypad handphoneku untuk sekedar bersenda gurau denganmu. Menjawab pertanyaanmu yang tidak lebih penting dari menyebrang jalan yang seperti jalan tol tadi. Tapi itu aku lakukan. Ah, aku pasti sungguh gila saat itu.

Setiap hari aku semakin akrab dengan handphoneku. Tak pernah lepas. Bahkan ibu jariku teriak kesakitan, karena aku selalu memaksanya bekerja hanya untuk lebih dekat denganmu. Ah, aku pasti sudah gila saat itu.

Empat tahun berlalu. Aku bahkan masih bisa menulis tulisan macam ini. Mengeluh aku rindu. Mengulang ingatan akan kegilaanku padamu.

Empat tahun berlalu. Sudah ada handphone yang jauh lebih canggih, yang tidak lagi akan membuat ibu jariku menjerit untuk dekat denganmu.

Empat tahun berlalu. Kali ini bukan ibu jariku yang menjerit. Tapi alam bawah sadarku. Karena sudah memaksa hati dan pikiranku untuk menekanmu jauh ke dalam dasar.

(27/06/14) 9.16pm

Memaknai Sebuah Cukup

Proses pengendalian diri atas emosi bukan suatu yg mudah. Perlu merasakan dari tawar, manis, manis sekali, sangat manis, hingga pahit bahkan sangat pahit.

Sebuah Cukup. Menyayangi secukupnya, mencintai secukupnya, membenci pun secukupnya. Begitu kata MR-ku.

Makan terlalu banyak itu sakit. Minum tlalu banyak jg sakit. Bicara tlalu banyak juga sakit. Terlalu dekat pun sakit.

Benar kata rasulullah berlebihan itu tidak baik.

Seperti sebuah hubungan. Misal, Persahabatn yg sudah terjalin jgn sampai terputus. Jgn terlalu erat, yg mbuat kita sesak di dalamnya. Jangan pula terlalu longgar, yg mbuat kita merasa kosong di dalamnya. Hanya: Cukup.
Saat ini aku sudah berada di titik tidak menginginkan sebuah balasan. Cukup menyayangi saja. Itu sudah cukup terasa lebih indah.

Seperti sebuah Nol.

Hanya bahagia dengan menyayangi.

Dengan begitu akan terasa sangat membahagiakan bila aku benar disayangi🙂

Jakarta, 08 Februari 2014
20.38 WIB

Samakah?

Hari berganti hari,
musim berganti musim,
tahun pun ikut berlari.

Apakah kau masih tetap sama?

Sedang daun saja bisa jatuh tertiup angin,
koyak terkikis hujan.

Apakah kau masih tetap sama?

Aku tak mengerti akan diam-mu.
Aku tak pandai membaca sgala apa yang tidak terucap.

Kumohon, apakah kau masih tetap sama?

Bahkan dinding pun tak mendengar desah suaramu.
Bahkan burung pun tak menangkap deru nafasmu.

Apakah kau masih tetap sama?

Matahari seolah terdiam tak bisa pantulkan bayanganmu.
Rembulan pun tak bisa rasakan pesona sahajamu.

Apakah kau masih tetap sama?

image

Semalam, salah satu sahabatku (sudah menikah) memposting gambar itu di salah satu grup WA. Sebenarnya, aku sudah pernah membaca pesan dalam gambar tersebut melalui DP BBM sahabatku yang lain (sudah menikah juga). Kembali ke grup WA, diskusi kecil pun terjadi. Yang berkomentar adalah 3 orang wanita lajang. Salah satunya adalah aku.😛 Seperti ini cuplikan komentarnya:

” Hehehe tapi kalau memang Allah memberikan kemampanan sebelum kita menikah maka kita harus tetap mendidik anak kita merasakan ajaibnya kekuasaan Allah.”

“Tapi kan definisi dr mapan bisa beda2 untuk tiap org.”

Yap aku setuju sama dua komentar di atas. Menurut aku, setiap orang itu punya kecenderungan dalam hidupnya. Ada yg lebih cenderung untuk mengambil s2 tlebih dahulu, ada juga yg cenderung berbisnis, meningkatkan jenjang karir yang diinginkan dan ada juga yg cenderung utk menikah dan punya anak, dll…
Kalau dikaitkan dengan nikah, bukan berarti org yg s2 ato yg bisnis atau yang mengejar jenjang karir, tidak peduli atau bahkan menyampingkan pernikahan. Bukan. Kita juga kan gak pernah tau ya ikhtiar dan tawakkal seseorang untuk rizki jodohnya sampai mana. Cukup Allah sebaik2 penilai dan sebaik2nya pmberi takdir yang tepat. Aku percaya kalo yg belum menikah pasti akan dipertemukan dgn jodohnya dalam waktu yg tepat.

The right man on the right time.

Sekali lagi, aku menekankan ikhtiar dan tawakkal seseorang dlm menjemput rizki jodohnya hanya Allah yg tahu bagaimana pastinya.

Dari penekanan aku di atas, aku hanya sedang berusaha belajar bahwa kita sebagai manusia tidaklah berhak menilai atau menghakimi seseorang karena belum menikah. Yuk, berpikir positif. In sya Allah, Allah pasti sudah menyiapkan takdir terbaik untuk hambaNya. Tinggal sekarang, kita wajib berikhtiar dan memasrahkan diri atas hasil dari usaha yang kita perjuangkan dalam meraih rizki jodoh dari Allah.🙂

Bekasi, 22 November 2013.

Qur’an Cantik Madina

image

Mau ngelapak ah di blog sendiri hehe…

“Namini” present: Madina Qur’an. Include:
terjemahan depag, asmaul husna, pedoman tand baca, doa sujud tilawah, indeks ayat2 keluarga, suplemen “wanita-wanita abadi dalam al-qur’an”, suplemen “adab memuliakan al-qur’an”, bonus buku doa al-ma’tsurat, Bonus buku inspiring story and 101 wisdom quotes, unique cover design, convertible and washable cover design dan ini limited edition.😀
Only: 84k

Yang minat bs sms/wa: 08998145675. Pin bb by request yaaa..😀