Feeds:
Posts
Comments

Jangan Bersedih :)

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), Jika kamu orang yang beriman”

(Q.S Ali Imran: 139)

 

Iya kalau katanya Ust Nouman Ali Khan, dengan ayat ini Allah menyarankan kita untuk melawan kekalahan dan kekecewaan yang akan menjatuhkan kita
Tapi kan ya ada manusia yang memang gabisa ketika dikasih beban hidup yang terlalu berat. Ujungnya apa? Bisa hilang akal. Baik sebagian ataupun keseluruhan. Atau ada juga yang tidak punya iman lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, ini banyak terjadi di Jepang dan Korea

Nah, bersyukurlah buat kamu wahai manusia, yang ketika Allah berikan beban yang berat dalam hidup kamu, tapi Allah berikan kekuatan dan kemudahan dengan tetap mendekap iman kepada Allah dengan erat

Karena hidup di dunia ini hanyalah seperti buih di lautan.
Karena hidup di dunia ini hanyalah seperti sebutir pasir.
Karena ada kehidupan lain yang jauh lebih bermakna dan berharga dari dunia ini.

Dan yang paling penting dari itu semua adalah karena hanya Allah sebaik-baik penolong dan pelindung

*FYI, ayat ini diturunkan setelah kaum Muslimin mengalami kekalahan di Perang Uhud
*postingan ini gak bermaksud untuk menasehati atau mengajari apapun kepada orang lain. Karena siapalah saya. Hanya manusia biasa. Disini, saya hanya berbagi apa yang ada di pikiran saya sebagai hasil dari apa yang telah dilalui baik oleh saya pribadi maupun beberapa orang terdekat saya

#meaningoflife #iloveallah #iman #islam

Advertisements

2016? Disaster!

2016 it’s like a disaster that ruined my life. Actually, maybe it’s me who choose to be ruined. because it is my life, so I did choose. .
.

One day, there was a light came to my life. I was dazzled. Not ready yet for the light to come. I deny it. I refused it. I chose to stay in darkness. But now, that I’m ready to go out from darkness, that light has gone. It’s okay I just have to wait another light to comes. I dont know when it will happens. but I’ll wait.

A best friend of mine, told me that I should move on and I could do anything I want, anything that makes me happy as long as that doesnt out from syariah.
And the most important thing is I should to reconcile with my own self. I should bring peace to my mind and heart. .
.

Then surely within hardship there is ease. Surely within hardship there is ease (Al-Insyirah:5-6). Indeed. .
.

Fyi: I write this in English, it’s not because I am fluent or excel in English. I’m just trying to learn wrting in English. Beside that, I am shy if I write it in Bahasa. Hahaha. Because Bahasa is my first language, so that it’ll very mean to me and can makes me “baper”. .

Langit dan Senja

Aku berada di birunya langit

Tanpa awan

Sepi

Hanya biru

 

Sedang kau?

Ada di ufuk senja

Merona jingga penuh kehangatan

 

Adakah waktu akan mempertemukan kita?

 

Kau tenggelam disambut malam

Aku tiada lagi rasakan hangatmu

 

Bisakah aku tanpa hangatmu, wahai jingga?

Haruskah aku melepasmu, duhai senja?

 

“Aku merindukanmu seperti kemarau pada hujan”

 

(Bekasi, 11 Maret 2016)

Resti Mirza Apriani

@shofwamirza

“meninggalkan”

Ada kalanya “meninggalkan” adalah satu-satunya jalan yang bisa diambil.

Ketika, penyakit hati ini malah bertambah.
Ketika, kepercayaan ini sudah tidak lagi ada.
Ketika, ini sudah bukan lagi menjadi perantara yang baik.

Aku memilih untuk tidak memperbaiki. Aku memilih untuk tidak bertahan. Aku memilih untuk tidak lagi bergantung pada orang lain. I will stand on my own.

Rindu

Melihat anak kecil mengemis di jembatan, mengingatkanku padamu. Kala itu, hatiku diliputi rasa penasaran dan juga sedih. Lantas, aku pun bertanya padamu pada malam itu: bagaimana bisa orang berlalu lalang begitu saja melewati anak kecil menengadah mengharap secuil kasih. Tak terpikirkah mereka bertanya pada anak itu, siapa namamu? Dimana orang tuamu? Mengapa kamu di sini?

Itulah kegelisahan hatiku yang langsung kucurahkan kepadamu. Aku tak ingat kau menjawabku apa. Aku hanya ingat, aku telah memilih untuk bertanya pada orang yang tepat. Yang membuatku nyaman.

Ingatanku pun melayang pada hal lain. Aku teringat ketika aku hendak menyebrang sebuah jalan di suatu kota. Sangat sulit sekali menyebrangi jalan itu. Seperti menyebrang di jalan tol. Tapi aku bahkan masih bisa bermain dengan keypad handphoneku untuk sekedar bersenda gurau denganmu. Menjawab pertanyaanmu yang tidak lebih penting dari menyebrang jalan yang seperti jalan tol tadi. Tapi itu aku lakukan. Ah, aku pasti sungguh gila saat itu.

Setiap hari aku semakin akrab dengan handphoneku. Tak pernah lepas. Bahkan ibu jariku teriak kesakitan, karena aku selalu memaksanya bekerja hanya untuk lebih dekat denganmu. Ah, aku pasti sudah gila saat itu.

Empat tahun berlalu. Aku bahkan masih bisa menulis tulisan macam ini. Mengeluh aku rindu. Mengulang ingatan akan kegilaanku padamu.

Empat tahun berlalu. Sudah ada handphone yang jauh lebih canggih, yang tidak lagi akan membuat ibu jariku menjerit untuk dekat denganmu.

Empat tahun berlalu. Kali ini bukan ibu jariku yang menjerit. Tapi alam bawah sadarku. Karena sudah memaksa hati dan pikiranku untuk menekanmu jauh ke dalam dasar.

(27/06/14) 9.16pm

Memaknai Sebuah Cukup

Proses pengendalian diri atas emosi bukan suatu yg mudah. Perlu merasakan dari tawar, manis, manis sekali, sangat manis, hingga pahit bahkan sangat pahit.

Sebuah Cukup. Menyayangi secukupnya, mencintai secukupnya, membenci pun secukupnya. Begitu kata MR-ku.

Makan terlalu banyak itu sakit. Minum tlalu banyak jg sakit. Bicara tlalu banyak juga sakit. Terlalu dekat pun sakit.

Benar kata rasulullah berlebihan itu tidak baik.

Seperti sebuah hubungan. Misal, Persahabatn yg sudah terjalin jgn sampai terputus. Jgn terlalu erat, yg mbuat kita sesak di dalamnya. Jangan pula terlalu longgar, yg mbuat kita merasa kosong di dalamnya. Hanya: Cukup.
Saat ini aku sudah berada di titik tidak menginginkan sebuah balasan. Cukup menyayangi saja. Itu sudah cukup terasa lebih indah.

Seperti sebuah Nol.

Hanya bahagia dengan menyayangi.

Dengan begitu akan terasa sangat membahagiakan bila aku benar disayangi 🙂

Jakarta, 08 Februari 2014
20.38 WIB

Samakah?

Hari berganti hari,
musim berganti musim,
tahun pun ikut berlari.

Apakah kau masih tetap sama?

Sedang daun saja bisa jatuh tertiup angin,
koyak terkikis hujan.

Apakah kau masih tetap sama?

Aku tak mengerti akan diam-mu.
Aku tak pandai membaca sgala apa yang tidak terucap.

Kumohon, apakah kau masih tetap sama?

Bahkan dinding pun tak mendengar desah suaramu.
Bahkan burung pun tak menangkap deru nafasmu.

Apakah kau masih tetap sama?

Matahari seolah terdiam tak bisa pantulkan bayanganmu.
Rembulan pun tak bisa rasakan pesona sahajamu.

Apakah kau masih tetap sama?