Tanggal 04 Maret 2008 Pukul 1:44 waktu depok, kukusan teknik – kosannya “D”…
Lelah, ingin cepat menggapai mimpi namun jari ini tak mau berhenti menggoyangkan gerakannya. Lelah, mulut ini – tak sanggup untuk berkata lagi. Perut ini diliputi rasa lapar yang amat sangat. Deru kipas angin yang kencang, serta gerakan tubuh “D” yang tiada hentinya berpindah-pindah – “d” sedang tidur padahal. Iringan lagu Un-break my heart yang dilantunkan oleh Toni Braxton, sedikit merefleksikan sejenak kepenatanku. Tercipta suasana romantis tiba-tiba. Entah, besok apa yang akan terjadi. Sudah terlalu muak juga aku terus membahasnya. Aku ingin ada di sebuah jalan yang sepi hanya dihiasi oleh temaram lampu malam serta rintik-rintik hujan. Aku bisa merasakan dunia ini sesungguhnya. Sayang, satu detik yang telah ku lewati tak mungkin ku alami lagi. Dan sudah banyak bahkan ratusan miliar detik telah ku lalui begitu saja. Aku ingin berefleksi sejenak degan kehidupan yang telah ku lalui. Bermanfaatkah atau aku hanya seorang yang mubadzir di muka bumi ini? Aku tahu, aku harus melakukan sesuatu, menjadi berbeda itu adalah langkah awalku. Tapi sebelum aku mejadi berbeda tentunya ada sejumlah awalan lagi yang harus ku lalui. Aku tak tahu awalan apa itu.
Hati ini setengah hancur melihat semua kejadian yang ada di muka bumi. Untungnya hanya setengah dari hatiku yang hancur, setengahnya lagi dapat ku gunakan untuk merasakan – berempati orang bilang – setidaknya aku juga pernah mengalami apa yang dialami oleh mereka. Kantuk ini sudah tak terasa lagi, hilang ditelan malam sunyi ini. Aku akan selalu membutuhkanmu. Aku harap aku bisa mencintaimu sepanjang hidupku. Jangan pernah lupakan aku. Kau boleh meninggalkanku tapi jangan kau lupakan aku. Jangan pernah. Karena kau akan menghancurkanku seketika kau melupakanku. Sekejap semuanya akan berubah. Tak ada lagi hati yang setengah hancur, yang ada hanyalah hati yang hancur berkeping-keping. Tapi aku tetap bersyukur, karena aku masih mempunyai akal. Dengan akalku maka hati yang sudah hancur akan ku perbaiki. Walau banyak bekas-bekas luka yang tak mungkin dapat dihapus dengan cepat.
Malam sunyi membawa kesedihanku menembus langit biru yang bergejolak. Tak mau lagi menyesal. Hah, apa itu penyesalan? Aku tak mengenalnya…hahaha… andai aku bias berucap demikian dengan lantangnya. Akan ku tantang seluruh dunia dengan tidak adanya penyesalan dalam hidupku. Tapi apakah itu cukup? Dunia tak pernah lelah mengajariku, mendikteku, mengejarku bahkan mengejekku. Aku harus cukup berani untuk semua itu. “Wahai dunia, tahukah kau, kau hanya sepenggal dalam kehidupanku!”,seruku sombong. Aku akan bersabar, karena hanya sedikit lagi aku akan melihat hasilnya. Bersabarlah maka engkau akan menemukan duniamu yang sesungguhnya. Aku tak cukup buruk untuk semua itu. Aku hanyalah manusia. Manusia dengan segala kesempurnaan yang ku milikki. Aku tetap menyombongkan diriku. Tak ada teori ataupun praktek dalam diri ini yang dapat ku sombongkan. Aku hanya sekedar menganalisa, dan itulah yang ku lakukan.
Bukan aku yang ingin menjadikan semuanya seperti ini. Sekalipun, aku tahu kunci jawaban atas semua pertanyaanku. Kuncinya adalah lihat dalam diriku dan aku akan menemukan semuanya. Perenungan. Itulah yang kuperlukan. Entah untuk merenungi apa. Bernyanyilah dengan khidmatnya, untuk mengenang para pahlawan katanya. Mengenang atau nasionalisme yang terlalu berlebihan sehingga dapat menimbulkan sensitivisme tersendiri pada kalangan tertentu?. Mereka!
Terkuak sudah semua yang ku inginkan. Tanpa harus ku menggalinya sendiri. Dia datang sendiri bahkan mengajakku turut serta berperan atas apa yang belum ku lihat sesungguhnya. Rupanya, aku cukup sabar dalam hal ini. Huh… aku akan berbeda dengan angkuhnya. Keangkuhan. Itulah yang menghalangiku selama ini untuk mendapatkan apa yang ku inginkan. Sekarang dengan angkuhnya aku dapat melangkah di atas segala keinginanku. (Sungguh pikiran yang tolol)
Aku takkan menangis lagi. Semua sudah terakumulasi detik ini. Tak perlu lagi ku menantinya, dya atau dya yang lain. Aku akan hidup berlandaskan apa yang ada pada diriku dan Tuhanku. Kesunyian hidup ini akan menjadi lebih sunyi jika aku memilih hidup seperti ini. Mengejarnya? Meraihnya? I don’t think so! Dengan terpapah aku menuju jalan ini, di tengah keabua-abuan aku coba menjelaskannya. Tak ada abu-abu, yang ada hanyalah hitam atau putih. Putih, lapang dan damai. Aku tak begitu suka putih. Terlalu banyak orang yang putih. Aku tak mau sama. Hitam, menakutkan, tapi aku melihat ada kehidupan disana, untukku. Aku bisa bersembunyi di balik kehitaman itu. Ada ruang hangat (ah, bukan hangat tapi dingin). Dalam hitam kucoba rumuskan hidupku, berpikir, menyendiri, aku seperti punya ruang yang amat bebas dalam hitam. Sedangkan putih, mau tak mau aku harus kembali pada putih. Duniaku sebenarnya. Aku akan ikhlas, aku akan terbiasa.
Semua yang dya ucapkan aku tak peduli. Lupakan saja aku! Aku tak peduli. Dya hanya satu, sedang mereka ada banyak. Besar ada padanya, mereka memang mendapat kecil, sudah pada porsinya walau belum pas. Aku bingung. Dya besar dan mereka kecil. Dya kecil dan mereka besar. Ada kesalahan pada mekanisme penyaringan dalam hati dan pikiran, lebih tepatnya pada hati. Terlalu mendominasi. Aku harus meninggalkannya, mengganti yang baru. Seperti dya yang menggantiku dengan yang lain. Aku tak paham maksudnya akan itu. Itupun menjadi bahasan yang tak penting. Dan dya pun lupa..
Selesai, 02:39 dan aku pun tertidur…
apa itu dogma??
apa itu logika??
jika semua hanya membutakan hatimu..
kalo katanya jason mraz nih:
“look into your heart and you’ll find love, love, love, love..
ijin copas yang ini y :
nasihat dari seorang teman:
“Bacalah Qur’an! Karena sungguh hati ini mudah berkarat..dan memebaca Al-Qur’an adalah obatnya..Semangat!!”
buat apdet status ..
saat pertama kali menginjakkan kaki Q ke ronggo warsito aQ mulai merasakan kebersamaan yg sangat perhatian ,,,,disaat kita susah mereka pun ikut susah dan di saat kita bergembira mereka turut bergembira,,, itulah “gank thawon’k” by darius
sabar ja dh n jalani hidup dgn penuh keihlasan